Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia https://ejournal.neurona.web.id/index.php/neurona <div style="display: none;"> </div> <div style="display: none;"> </div> <p>Neurona merupakan satu-satunya jurnal yang memuat perkembangan penelitian dan kasus terbaru bidang neurosains di Indonesia. Jurnal ini diterbitkan setiap 3 bulan sekali oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf (PERDOSNI) Pusat di Indonesia.</p> <p>Sudah terakreditasi oleh kementrian pendidikan tinggi sejak tahun 2015 No.12/M/Kp/II/15 dan terindeks pada Google Scholar, Science and Technology Index (SINTA) dan Garba Rujukan Digital (GARUDA).</p> PERDOSNI id-ID Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia 0216-6402 Hubungan Faktor Demografi dengan Durasi Pre-Hospital pada Pasien Stroke Akut di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie https://ejournal.neurona.web.id/index.php/neurona/article/view/729 <p>Pendahuluan: Durasi pre-hospital pada pasien stroke akut sangat penting untuk mencegah outcome <br>pasien yang buruk. Salah satu faktor yang memengaruhi waktu kedatangan pasien di rumah sakit adalah faktor <br>demografi.<br>Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan faktor demografi dengan durasi prehospital pasien stroke akut di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie.<br>Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. <br>Data penelitian diperoleh dari wawancara dengan keluarga pasien dan rekam medik pasien. Sampel dari penelitian <br>ini sebanyak 80 responden yang memenuhi kriteria inklusi yang terdiri dari 61 pasien stroke iskemik dan 19 pasien <br>stroke hemoragik.<br>Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan usia terbanyak pasien stroke akut adalah 63 tahun dan pasien <br>stroke paling banyak berjenis kelamin laki – laki. Mayoritas pasien stroke akut berpendidikan terakhir <br>SMA/SLTA. Pasien stroke akut yang bekerja dan berpenghasilan lebih dari UMR lebih banyak daripada yang <br>tidak bekerja. Seluruh pasien stroke akut berjumlah 80 orang memiliki jaminan kesehatan. Mayoritas pasien stroke <br>akut berjarak tempat tinggal dari rumah sakit (≤ 10 km) dan tidak memiliki kendaraan roda 4. Penelitian ini <br>menunjukkan tidak terdapat hubungan usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir, pekerjaan, penghasilan, dan <br>kepemilikan kendaraan roda 4 dengan durasi pre-hospital pasien stroke akut ( p = 0,246 ; 0,174 ; 0,515 ; 0,475 ; <br>0,769 ; 0,771).<br>Diskusi: Pada penelitian ini faktor demografi yang terbukti berhubungan dengan keterlambatan pasien <br>stroke akut ke rumah sakit adalah jarak tempat tinggal pasien ( &gt; 10 km) dengan p value = 0,008.<br>Kata Kunci: Stroke Akut, Demografi, Pre-Hospital</p> Yetty Hutahaean Hak Cipta (c) 2025 Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia 2026-03-27 2026-03-27 42 2 Hubungan Antara Ekspresi Reseptor Progesteron dengan Grade Histopatologi Meningioma di RSSA Malang https://ejournal.neurona.web.id/index.php/neurona/article/view/562 <p><strong>Latar Belakang: </strong>Meningioma adalah sekelompok tumor yang sebagian besar jinak dan tumbuh lambat yang berasal dari sel meningotel lapisan araknoid otak dan medula spinalis. Meningioma ditemukan pada satu per tiga dari keseluruhan tumor pada susunan saraf pusat.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> untuk mengetahui hubungan ekspresi reseptor progesteron terhadap derajat histopatologi meningioma di Indonesia khususnya di RSSA Malang.</p> <p><strong>Metode: </strong>Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik <em>cross sectional</em>. Sampel penelitian adalah blok paraffin dari kasus meningioma di Instalasi Patologi Anatomi&nbsp; yang didapatkan sejak tahun 2017 hingga tahun 2020. Teknik pengumpulan data melalui pembuatan preparat histopatologi, pembuatan preparat imunohistokimia, dan evaluasi imunohistokimia. Analisis data dilakukan dengan SPSS versi 20.</p> <p><strong>Hasil Penelitian: </strong>Mayoritas kasus meningioma di RSSA Malang adalah perempuan, berusia 41-50 tahun, berlokasi di regio frontal, memiliki derajat histopatologi I, dan memiliki ekspresi reseptor progesteron skor 4. Uji chi square menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara ekspersi reseptor progesteron. Uji regresi logistik parsial menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara jenis kelamin, usia, dan lokasi dengan derajat histopatologi meningioma. Uji regresi logistik multinomial menunjukkan bahwa jenis kelamin, usia, dan lokasi lesi tidak meningkatkan atau menurunkan risiko (<em>odds ratio</em>) yang signifikan terhadap derajat histopatologi meningioma.</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong>Penelitian ini menunjukkan tidak adanya hubungan signifikan antara ekspresi reseptor progesteron dan derajat histopatologi meningioma dan tidak ada hubungan antara jenis kelamin, usia, dan lokasi lesi dengan derajat histopastologi meningioma dan tidak ada peningkatan risiko derajat histopatologi yang signifikan karena jenis kelamin, usia, atau lokasi lesi.</p> <p>&nbsp;</p> Dessika Rahmawati Diah Prabawati Retnani Yulia Damayanti Holifah Holifah Hak Cipta (c) 2025 Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia 2026-03-27 2026-03-27 42 2 Prediksi Hiperlaktatemia Terhadap Sepsis Dan Luaran Buruk Pada Pasien Intracerebral Hemorrhage https://ejournal.neurona.web.id/index.php/neurona/article/view/892 <p><strong>Pendahuluan:</strong> Sepsis adalah komplikasi dan penyebab utama mortalitas pada pasien intracerebral hemorrhage (ICH) di ICU. Serum asam laktat digunakan sebagai marker biokimia prognostik sepsis.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Studi ini bertujuan menilai hubungan kadar asam laktat serum terhadap kejadian sepsis dan outcome klinis pasien ICH di ICU RSUP dr. Kariadi.</p> <p><strong>Metode:</strong> Studi kohort observasional retrospektif dengan 30 pasien ICH di ICU tahun 2024. Uji normalitas data dilakukan dengan Shapiro-Wilk; data non-normal diuji dengan Mann-Whitney U, dan data kategori diuji dengan Chi-square.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Dari 30 pasien (12 laki-laki, 18 perempuan), 20 mengalami hiperlaktatemia (&gt;2 mmol/L). Kelompok hiperlaktatemia memperlihatkan insidensi sepsis lebih tinggi (90% vs. 50%, p=0,014), MODS (70% vs. 30%, p=0,037), NLR tinggi (&gt;8; 80% vs. 40%, p=0,028), durasi ventilator (&gt;8 hari; 75% vs. 40%, p=0,007), dan LOS (&gt;8 hari; 75% vs. 40%, p=0,007).</p> <p><strong>Diskusi:</strong> Monitoring serum asam laktat dapat dilakukan rutin pada pasien ICH di ICU sebagai penanda prognosis sepsis dan deteksi dini komplikasi. Penelitian multivariat prospektif lebih besar diperlukan untuk validasi temuan.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> ICU, perdarahan intraserebral, asam laktat, prognosis, sepsis</p> Retnaningsih Dodik Tugasworo Ageng Priatmaja Supardi Hak Cipta (c) 2026 Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia 2026-03-27 2026-03-27 42 2 HUBUNGAN PARAMETER KEBUGARAN FISIK DENGAN SINDROMA FRAILTY PADA LANSIA DI JAKARTA https://ejournal.neurona.web.id/index.php/neurona/article/view/674 <p><strong>Pendahuluan</strong>: <em>Frailty </em>merupakan sindrom geriatri yang bersifat multifaktorial akibat hilangnya kemampuan tubuh dalam menghadapi stresor akibat penuaan. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Asenso et.al didapatkan prevalensi <em>frailty </em>global sebesar 13,6%.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Tujuan: </strong>Mendapatkan gambaran mengenai hubungan parameter kebugaran fisik dengan sindroma <em>frailty </em>pada lansia.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Metode: </strong>Penelitian ini menggunakan desain potong lintang yang melibatkan 98 responden berusia 60 tahun ke atas. ADL diukur menggunakan <em>Barthel Index, </em>keseimbangan diukur menggunakan <em>Berg Balance Scale</em>, dan aktivitas fisik diukur menggunakan kuesioner SQUASH dengan batasan berdasarkan GPAQ. Status <em>frailty</em> dinilai menggunakan <em>Fried frailty phenotype.</em></p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Hasil: </strong>Dari 98 responden, mayoritas adalah perempuan (71,4%), berusia 60-74 tahun (74,5%), dengan tingkat pendidikan tinggi (51%). Sebanyak 18,4% dari lansia mengalami <em>frailty</em>. Analisis chi-square menunjukkan bahwa faktor-faktor signifikan adalah usia (p&lt;0,001; RO: 7,408), ADL (p=0,019; RO: 3,944), keseimbangan (p=0,042; RO: 7,800), dan aktivitas fisik (p=0,014; RO: 3,714). Analisis <em>multiple logistic regression</em> menunjukkan bahwa usia adalah faktor yang paling berpengaruh terhadap <em>frailty</em> (p=0,002; RO: 6,209) diikuti oleh aktivitas fisik (p=0,030; RO: 3,834).</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Diskusi: </strong>Usia, ADL, keseimbangan, dan aktivitas fisik ditemukan memiliki hubungan yang bermakna terhadap <em>frailty</em>. Di antara faktor-faktor ini, usia diidentifikasi sebagai faktor yang paling berpengaruh.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Kata Kunci: </strong><em>ADL, aktivitas fisik, frailty, keseimbangan, lansia, usia.</em></p> Rayner Abdiwijaya Hariyanto Linda Suryakusuma Yvonne Suzy Handajani Yuda Turana Hak Cipta (c) 2026 Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia 2026-03-27 2026-03-27 42 2 Sejarah Neurointervensi di Indonesia https://ejournal.neurona.web.id/index.php/neurona/article/view/901 <p>Sejarah Neurointervensi dimulai pertama kali oleh Prof. Egas Moniz, seorang kebangsaan Portugese yang mendapatkan perhargaan Nobel kedokteran melakukan penemuan prosedur angiografi pada tahun 1928 kemudian berkembang menjadi suatu prosedur <em>minimal invasive</em>. Prosedur ini dilakukan pada pasien dengan kelainan pembuluh darah otak dan medula spinalis seperti, stroke, aneurisma, malformasi pembuluh darah dan tumor otak.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Di Indonesia, prosedur neurointervensi dilakukan oleh seorang neurologist, radiologist dan neurosurgeon yang telah menyelesaikan pendidikan tambahan fellowship neurointervensi vaskular, neuroradiologi atau bedah saraf vaskular.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Khusus perkembangan neurointervensi di Indonesia tidak lepas dari perjuangan dr.Fritz Sumantri Usman pada tahun 2008 yang telah menyelesaikan pendidikannya dari Egas Moniz Neurointervention dan Stroke Fellowship di Sir Ganga Ram Hospital New Delhi India, kemudian dari seorang diri menjadi 10 orang pada tahun 2011, hingga pada tahun 2025 ini telah terdapat 152 neurointervensionis&nbsp; yang tersebar di seluruh Indonesia. Pendidikan fellowship yang ditempuh saat ini tidak hanya berasal dari India, tetapi juga dari Korea Selatan, Vietnam, Cina, Austria dan terdapat 8 Rumah Sakit di Indonesia yang menyelenggarakan pendidikan fellowship neurointervensi vaskular.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Berbagai tindakan endovakular yang dilakukan seorang neurointervensionist&nbsp; seperti mekanikal trombektomi telah menjadi standar pelayanan dalam penanganan stroke akut, begitu juga dengan berbagai prosedur endovaskular lainya dengan minimal invasif menawarkan keuntungan dibandingankan tindakan operasi. Semoga neurointervensi Indonesia dapat terus berkembang dan memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi masyarakat Indonesia. &nbsp;Sesuai yang tercantum dalam mars derap neurointervensi, mula cita menanjak dan mendaki, bukan mudah satukan langkah kaki, tekad baja demi ibu pertiwi, bangun Neurointervensi. Jaya Neurointervensi.</p> Fajar Prabowo Hak Cipta (c) 2026 Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia 2026-03-27 2026-03-27 42 2