https://ejournal.neurona.web.id/index.php/neurona/issue/feedMajalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia2026-08-02T23:12:45+07:00Mawaddah Ar Rochmahneurona.perdossi@gmail.comOpen Journal Systems<div style="display: none;"> </div> <div style="display: none;"> </div> <p>Neurona merupakan satu-satunya jurnal yang memuat perkembangan penelitian dan kasus terbaru bidang neurosains di Indonesia. Jurnal ini diterbitkan setiap 3 bulan sekali oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf (PERDOSNI) Pusat di Indonesia.</p> <p>Sudah terakreditasi oleh kementrian pendidikan tinggi sejak tahun 2015 No.12/M/Kp/II/15 dan terindeks pada Google Scholar, Science and Technology Index (SINTA) dan Garba Rujukan Digital (GARUDA).</p>https://ejournal.neurona.web.id/index.php/neurona/article/view/562Hubungan Antara Ekspresi Reseptor Progesteron dengan Grade Histopatologi Meningioma di RSSA Malang2026-08-02T22:57:15+07:00Dessika Rahmawatidessikasps@ub.ac.idDiah Prabawati Retnaniprabawatie33@gmail.comYulia Damayantiy.damay83@gmail.comHolifah Holifahholifah.fkub@ub.ac.id<p><strong>Latar Belakang: </strong>Meningioma adalah sekelompok tumor yang sebagian besar jinak dan tumbuh lambat yang berasal dari sel meningotel lapisan araknoid otak dan medula spinalis. Meningioma ditemukan pada satu per tiga dari keseluruhan tumor pada susunan saraf pusat.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> untuk mengetahui hubungan ekspresi reseptor progesteron terhadap derajat histopatologi meningioma di Indonesia khususnya di RSSA Malang.</p> <p><strong>Metode: </strong>Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik <em>cross sectional</em>. Sampel penelitian adalah blok paraffin dari kasus meningioma di Instalasi Patologi Anatomi yang didapatkan sejak tahun 2017 hingga tahun 2020. Teknik pengumpulan data melalui pembuatan preparat histopatologi, pembuatan preparat imunohistokimia, dan evaluasi imunohistokimia. Analisis data dilakukan dengan SPSS versi 20.</p> <p><strong>Hasil Penelitian: </strong>Mayoritas kasus meningioma di RSSA Malang adalah perempuan, berusia 41-50 tahun, berlokasi di regio frontal, memiliki derajat histopatologi I, dan memiliki ekspresi reseptor progesteron skor 4. Uji chi square menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara ekspersi reseptor progesteron. Uji regresi logistik parsial menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara jenis kelamin, usia, dan lokasi dengan derajat histopatologi meningioma. Uji regresi logistik multinomial menunjukkan bahwa jenis kelamin, usia, dan lokasi lesi tidak meningkatkan atau menurunkan risiko (<em>odds ratio</em>) yang signifikan terhadap derajat histopatologi meningioma.</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong>Penelitian ini menunjukkan tidak adanya hubungan signifikan antara ekspresi reseptor progesteron dan derajat histopatologi meningioma dan tidak ada hubungan antara jenis kelamin, usia, dan lokasi lesi dengan derajat histopastologi meningioma dan tidak ada peningkatan risiko derajat histopatologi yang signifikan karena jenis kelamin, usia, atau lokasi lesi.</p> <p> </p>2026-08-02T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2025 Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesiahttps://ejournal.neurona.web.id/index.php/neurona/article/view/911KERENTANAN STATUS GIZI PADA STROKE ISKEMIK AKUT: DAMPAK GABUNGAN DISFAGIA DAN GANGGUAN KOGNITIF2026-08-02T22:31:03+07:00Amriani Amrianiamriani914@gmail.comIka Marliaikamarlia@gmail.comNasrul Musadirnasrulmusadir@usk.ac.id2026-08-02T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesiahttps://ejournal.neurona.web.id/index.php/neurona/article/view/664Hubungan Depresi dan Fungsi Olfaktori dengan Kualitas Hidup pada Lansia2026-08-02T22:36:43+07:00berliana thejaberlianaelyza10@gmail.com<div> <p><strong><span lang="EN-US">Pendahuluan: </span></strong><span lang="EN-US">Sejalan dengan pesatnya pertumbuhan populasi lansia maka kualitas hidup pada lansia perlu diperhatikan. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kualitas hidup pada lansia seperti keseimbangan, depresi, dan fungsi olfaktori.</span></p> </div> <div> <p><span lang="EN-US"> </span></p> </div> <div> <p><strong><span lang="EN-US">Tujuan</span></strong><span lang="EN-US">: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan antara depresi, gangguan keseimbangan, dan fungsi olfaktori dengan kualitas hidup pada lansia. </span></p> </div> <div> <p><span lang="EN-US"> </span></p> </div> <div> <p><strong><span lang="EN-US">Metode </span></strong><span lang="EN-US">: Studi ini menggunakan rancangan <em>cross-sectional</em> dengan total 100 responden yang berusia ≥ 60 tahun di Pusaka Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Variabel-variabel diukur menggunakan World Health Organization Quality of Life-BREF (WHOQOL-BREF), Geriatric Depression Scale-15 (GDS-15), <em>Berg Balance Scale</em> (BBS), dan Tes Olfaktori. Hubungan antara variabel terhadap kualitas hidup dianalisa menggunakan metode <em>binary logistic regression </em>dengan <em>backward conditional analysis.</em></span></p> </div> <div> <p><strong><span lang="EN-US"> </span></strong></p> </div> <div> <p><strong><span lang="EN-US">Hasil </span></strong><span lang="EN-US">: Sebagian besar responden merupakan kelompok lansia berusia 60-74 tahun (75%), berjenis kelamin wanita (71%), dan menamatkan pendidikan terakhir </span><span lang="IN">≥ 9 tahun</span><span lang="EN-US"> (97%).</span><span lang="EN-US"> Berdasarkan hasil analisis, didapatkan bahwa depresi memiliki hubungan yang bermakna dengan domain relasi sosial (OR= 3,237 ; 95% CI 1,035-10,119 ; p= 0,043) dan kualitas hidup secara keseluruhan (OR= 6,231 ; 95% CI 1,134-34,246 ; p= 0,050). Fungsi olfaktori memiliki hubungan yang bermakna dengan domain relasi sosial (OR = 3,327; 95% CI 1,249-8,865 ; p= 0,016). Sedangkan </span><span lang="EN-US">jenis kelamin merupakan faktor protektif terhadap domain lingkungan.</span></p> </div> <div> <p><strong><span lang="EN-US"> </span></strong></p> </div> <div> <p><strong><span lang="EN-US">Diskusi </span></strong><span lang="EN-US">: Pada penelitian ini, didapatkan hubungan yang signifikan antara depresi dengan kualitas hidup secara keseluruhan dan domain hubungan sosial. Fungsi olfaktori ditemukan memiliki hubungan yang signifikan dengan domain lingkungan. Sedangkan jenis kelamin merupakan faktor protektif terhadap domain lingkungan.</span></p> </div> <div> <p><strong><span lang="EN-US"> </span></strong></p> </div> <div> <p><strong><span lang="EN-US">Kata Kunci </span></strong><span lang="EN-US">: Kualitas hidup, Depresi, Fungsi Olfaktori, Gangguan Keseimbangan, Lansia</span></p> </div>2026-08-02T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2025 Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesiahttps://ejournal.neurona.web.id/index.php/neurona/article/view/947PEMILIHAN MONTASE TDCS KORTEKS MOTORIK DALAM PRAKTIK NEURORESTORASI: PERSPEKTIF PEMODELAN MEDAN LISTRIK 2026-06-29T19:16:18+07:00Amanda Tiksnadiamtiks@yahoo.com<p><strong>Pendahuluan:</strong></p> <p>Berbagai montase transcranial direct current stimulation (tDCS) digunakan untuk stimulasi korteks motorik primer (M1), namun pemilihannya sering didasarkan pada kebiasaan klinis tanpa mempertimbangkan perbedaan distribusi medan listrik yang dihasilkan.</p> <p><strong>Tujuan: </strong></p> <p>Menganalisis karakteristik distribusi medan listrik pada beberapa montase tDCS yang umum digunakan untuk stimulasi M1 kiri dan mendiskusikan implikasinya dalam praktik neurorestorasi.</p> <p><strong>Metode: </strong></p> <p>Simulasi dilakukan menggunakan SimNIBS berbasis <em>finite element method</em> (FEM) pada model kepala Ernie Extended. Lima montase dianalisis, yaitu C3–C4, C3–Fp2, C3–Fp1, C3–deltoid kanan (RDt), dan C3–deltoid kiri (LDt), dengan anoda pada C3 dan arus 2 mA. Analisis dilakukan pada area C3, Cz, dan C4.</p> <p><strong>Hasil: </strong></p> <p>Distribusi medan listrik berbeda pada setiap montase. Montase C3–C4 menghasilkan keterlibatan area sensorimotor medial dan hemisfer kontralateral terbesar, sedangkan C3–Fp1 menunjukkan distribusi yang paling terlokalisasi pada hemisfer target. Montase C3–Fp2 menghasilkan intensitas medan listrik tertinggi pada area target C3. Montase ekstrasefalik C3-RDt dan C3-LDt menunjukkan keterlibatan hemisfer kontralateral yang relatif lebih rendah dibandingkan montase bihemisferik.</p> <p><strong>Diskusi: </strong></p> <p>Lokasi elektroda kedua secara bermakna memengaruhi distribusi medan listrik pada jaringan sensorimotor. Setiap montase memiliki karakteristik rekrutmen jaringan yang berbeda sehingga pemilihannya sebaiknya disesuaikan dengan tujuan neuromodulasi dan kondisi klinis yang mendasarinya.</p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Kata Kunci: </strong></p> <p><em>finite element methods</em>, FEM, neuromodulasi, neurorestorasi, korteks motorik primer<em>, transcranial direct current stimulation</em>, tDCS.</p> <p> </p>2026-08-02T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesiahttps://ejournal.neurona.web.id/index.php/neurona/article/view/201PENGARUH STIMULASI MAGNETIK TRANSKRANIAL BERULANG UNTUK MENGURANGI SKALA NYERI PASIEN STROKE DENGAN GANGGUAN KECEMASAN 2023-06-15T01:27:32+07:00Jumraini Tammassejumraini.tammasse@gmail.comKurnia Bintangkurniab@yahoo.comAmanda Tiksnadiamtiks@yahoo.comAhmad Zakiazakihanif@gmail.com<p>ABSTRAK<br>Pendahuluan : Central Post Stroke Pain (CPSP) adalah sindrom nyeri neuropatik sentral kronis yang berhubungan dengan kelainan somatosensori yang disebabkan oleh lesi stroke pada Sistem Saraf Pusat (SSP). Nyeri yang terjadi baik dengan stimulus atau spontan, biasanya muncul 1-6 bulan setelah stroke iskemik atau hemoragik. CPSP dapat menyebabkan kecemasan, depresi, gangguan tidur yang berujung pada penurunan kualitas hidup pasien akibat nyeri kronis. Transcranial Magnetic Stimulation (TMS) adalah terapi intervensi nonfarmakologis sekaligus non-invasif yang digunakan untuk meredakan nyeri kronis dan gangguan kecemasan dengan menggunakan medan magnet yang diubah dari energi listrik melalui kumparan yang ditempatkan pada tulang tengkorak, yang berguna untuk menata kembali intrakranial, struktur dan fungsi terganggu oleh lesi stroke.<br>Kasus : Seorang pasien berusia 49 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan nyeri pada lengan dan tungkai kiri, dirasakan sejak 5 bulan sebelum masuk rumah sakit, terjadi dengan atau tanpa stimulus, berkurang dengan obat analgetik tetapi muncul kembali segera setelah konsumsi obat. Dia merasakan sensasi menusuk dan terbakar terus menerus dengan skala peringkat nyeri neurologis (NPRS): 6-7. Riwayat stroke 3 tahun yang lalu dan rutin kontrol ke ahli saraf untuk pengobatan. Dia merasa sulit untuk tidur dan gelisah karena rasa sakit ini. Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) diukur sebelum dan sesudah rTMS.<br>Diskusi : Peningkatan skor HARS dan NPRS dicatat setelah RTM, diperkirakan terjadi karena reorganisasi neurotransmiter yang terlibat dalam patofisiologi nyeri kronis.<br>Kesimpulan : RTM membantu meningkatkan kualitas hidup pasien CPSP.<br>Kata kunci : Central Post Stroke Pain, Repetitive Transcranial Magnetic Stimulation, Anxiety Disorder, Hamilton Anxiety Rating Scale, Neurological Pain Rating Scale.</p>2026-08-02T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesiahttps://ejournal.neurona.web.id/index.php/neurona/article/view/956ANGIOPLASTI BALON INTRAKRANIAL SEBAGAI PENCEGAHAN SEKUNDER STROKE ISKEMIK2026-08-02T23:06:53+07:00Yan Leo Tambunanyltambunan@gmail.com<p><strong>Latar Belakang:</strong> Penyakit aterosklerotik intrakranial merupakan penyebab utama stroke iskemik rekuren meski terapi medik agresif telah dioptimalkan. Dalam dekade terakhir, angioplasti balon intrakranial—termasuk angioplasti balon submaksimal dan <em>drug-coated balloon</em>—muncul sebagai strategi “tanpa implan” yang berpotensi menurunkan restenosis dan kejadian stroke berulang dibanding <em>stenting</em>.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Menilai efektivitas dan keamanan angioplasti balon intrakranial (ABI) sebagai pencegahan sekunder pada pasien dengan stenosis aterosklerotik intrakranial simptomatik (SAIS) serta membandingkannya dengan terapi medik agresif dan/atau <em>stenting</em>.</p> <p><strong>Metode:</strong> Kami melakukan tinjauan pustaka sistematis berpedoman PRISMA pada Scopus, PubMed, dan ProQuest (2015–2025). Dari 199 rekam (Scopus 78; PubMed 21; ProQuest 100), dilakukan penapisan judul/abstrak, telaah teks menyeluruh, dan ekstraksi data ganda memakai formulir baku. Tujuh belas penelitian (RCT, kohort prospektif/retrospektif, dan telaah sistematik/meta-analisis) diikutkan ke sintesis kualitatif.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Secara keseluruhan, ABI—khususnya angioplasti balon submaksimal yang dikombinasikan dengan terapi medik —menurunkan stroke/kematian 30 hari dan stroke rekuren 12 bulan dibanding terapi medik saja pada SAIS yang memenuhi kriteria. DCB konsisten menunjukkan restenosis lebih rendah dan stenosis residu minimal dibanding <em>stenting</em> konvensional tanpa penalti keselamatan, sementara komplikasi periprosedural dengan dilatasi konservatif tetap rendah.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Bukti dari 17 publikasi mendukung ABI—baik submaksimal maupun DCB—sebagai pilihan yang aman dan efektif untuk pencegahan sekunder pada SAIS terpilih. Diperlukan RCT multicenter jangka panjang untuk standarisasi teknik (target stenosis residual, parameter inflasi) dan konfirmasi keunggulan dibanding <em>stenting</em> atau terapi medik saja.</p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em> angioplasti balon intrakranial; angioplasti balon submaksimal; drug-coated balloon; pencegahan sekunder; </em>SAIS<em>.</em></p>2026-08-02T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesiahttps://ejournal.neurona.web.id/index.php/neurona/article/view/853LAPORAN KASUS PERDARAHAN INTRASEREBRAL DISERTAI HIPERTENSI2026-05-21T11:05:07+07:00Puspa Dewantipuspadewanti2@gmail.com<p>Perdarahan intraserebral, suatu subtipe stroke, adalah kondisi yang sangat parah di mana hematoma terbentuk di dalam parenkim otak dengan atau tanpa perluasan darah ke dalam ventrikel. Perdarahan intraserebral non-traumatik mencakup 10-15% dari seluruh stroke dan dikaitkan dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi<sup>1</sup>. Seorang perempuan berusia 37 tahun datang ke IGD RSUD DR. Haryoto Lumajang pada 08 September 2025 pukul 20.24 dengan keluhan penurunan kesadaran sejak 2 jam yang lalu dengan kelemahan anggota gerak kanan saat pasien sedang di kamar mandi kemudian terjatuh ke lantai, Pada hasil CT scan didapatkan ICH, tatalaksana diberikan Infus Nacl 0,9% 1000cc/24jam, syringepump nicardipin 11,25cc/jam, injeksi ranitidine 2x1, citicolin 2x500mcg, mecobalamin 1x500mg, mannitol loading 200cc dilanjutkan mannitol maintenans 6x100cc tapering off harian, obat nootropic, neuroprotektan, dan antihipertensi serta rehabilitasi dan fisioterapi.</p> <p><strong>K</strong><strong>ata Kunci:</strong> Perdarahan intraserebral, kelemahan, mannitol.</p>2026-08-02T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia